Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, kawasan tersebut dikendalikan oleh dua sindikat terpisah yang menjalin kolaborasi strategis. Kombinasi antara masifnya peredaran sabu-sabu dan perjudian ini menciptakan perputaran uang haram bernilai fantastis setiap harinya, sekaligus membentuk benteng psikologis yang membuat lokasi tersebut sulit ditembus razia.
Dua Kutub Sindikat dalam Satu Ekosistem
Meski beroperasi di lokasi yang sama, bisnis ilegal ini memiliki struktur manajemen terpisah dengan peran yang saling menguntungkan:
- Kartel Narkoba 'Ipen': Rantai pasokan narkotika jenis sabu di wilayah ini berada di bawah kendali eksklusif gembong berinisial 'Ipen'. Dalam operasionalnya, Ipen mendelegasikan tugas kepada 'Beni' sebagai eksekutor lapangan (penjaga piket) yang bertransaksi langsung dengan konsumen. Sementara itu, manajemen logistik dan pengamanan gudang penyimpanan barang haram dipercayakan kepada sosok berinisial 'Cacado'.
- Sindikat Judi Tembak Ikan Oknum Aparat: Arena judi mesin tembak ikan yang menjadi episentrum keramaian dikelola oleh pihak yang berbeda. Kuat dugaan, bisnis perjudian ini diotaki dan dikelola oleh seorang oknum anggota TNI aktif berinisial 'Nai alias Baho'.
- Keterlibatan oknum aparat ini disinyalir kuat menjadi "kartu truf" atas absennya tindakan tegas kepolisian. Eksistensi 'Nai alias Baho' diduga tidak sekadar mengamankan bisnis judinya, tetapi juga bertindak sebagai bekingan tak langsung bagi operasional barak narkoba Ipen. Simbiosis ini berakar dari pangsa pasar yang sama: para penjudi adalah target konsumen potensial bagi sabu-sabu, dan sebaliknya.
"Pantas saja aparat enggan menggerebek. Pengelola judinya oknum militer. Mereka berbagi wilayah operasi di dalam; satu mengendalikan sabu, satu lagi mengelola mesin judi. Warga di sini sudah berada di titik nadir keresahan, namun bungkam karena takut," ungkap seorang sumber tepercaya di sekitar lokasi yang enggan disebutkan namanya.
Fakta bahwa barak narkoba dan judi ini bisa beroperasi bebas tanpa hambatan menjadi tamparan keras bagi supremasi hukum di Sumatera Utara, khususnya bagi kredibilitas Polsek Sunggal dan Polrestabes Medan. Masyarakat kini mendesak langkah konkret dari institusi kepolisian maupun militer.
Tuntutan publik mengarah pada pembentukan tim operasi gabungan antara Polda Sumatera Utara dan Polisi Militer Kodam (Pomdam) I/Bukit Barisan.
Pembersihan secara menyeluruh di Kampung Banjar dinilai mendesak untuk memberangus sindikat 'Ipen', sekaligus menindak tegas oknum 'Nai alias Baho' guna menjaga marwah institusi TNI di mata publik.
Merespons polemik tersebut, Kapolsek Sunggal, Kompol Mhd Yunus Tarigan, S.H., M.H., menyatakan komitmennya untuk segera turun tangan.
"Baik, terima kasih atas informasinya. Akan kami tindak lanjuti segera. Apabila informasi tersebut benar adanya, kami pasti berkoordinasi dengan pihak Polisi Militer (PM) untuk melakukan penegakan hukum," tegas Kompol Yunus saat dikonfirmasi secara terpisah. (Tim)
